Monday, April 23, 2007

I'M BACK dear BLOG...!!! (^_^)

Hari ini tepat 2 taon, 2 bulan dan 12 hari gw ga nyentuh yang namanya Blogger...
And to deiy...

I'm BEKKK
..!!

Hehehehehe..
B'awal dari penasaran adjah
"Apa yaaah yang qra2 tjadi sama blog yg pernah gw buat dulu, yang katanya mo jadi blog t'akhir gw..."
Yang ternyata adalah nasibnya terlupakan oleh gw, baik dari nama blog gw apa, pake email yang mana pas bikinnya, sampe pake password apa yaaahhh..

intinya...blog gw..
M.I.A...
Missing in Action booowww...!!

Tapiii...
Untunglah dengan teknologi 'Kanjeng Google' yang canggih teaaa...plus dengan'sedikit' bantuan temen...akhirnya..dengan bangga..gw pengen bilang...

MY BLOG IS BAAAAAACCKKK..!!!!

Senennggggg deeehhh...!!!

Lopyu so muucchh Google...
Yu en aiyy arrr preeennn...!!!!!

(^_^)

Friday, February 11, 2005

Tulisan tahun lalu...

ini sbenernya tulisan yg udah lumayan basi ditulis...tulisan tahun lalu, tapiii..masih sah kaaan kalow saya taro di blog saya sendiri..?? (^_^)

------------------------------------------------------------------------------------------------


Kucing Hitam


Sebut saja ini sebuah rencana, tapi aku tak ingin membaginya dengan siapapun. Biar semua aku simpan sendiri didalam pikiranku, berada dalam setiap langkah yang akan kubuat dan meluncur lewat setiap kata yang akan kuucap. Aku belajar untuk berjalan dengan berjingjit dan berbicara dengan berbisik. Aku tersenyum, tapi kukulum semua arti dibalik setiap senyuman.


Sore ini terasa sangat indah, ketika kududuk disebuah sofa kayu berbantalkan busa yang empuk, yang dibungkus oleh kain putih bermotifkan bunga-bunga kecil yang cantik berwarna pastel. Vanila latte hangat favoritku dari kedai kopi ini pun menambah indahnya suasana yang kurasa dalam batinku. “Segalanya pasti akan berjalan dengan baik”. Aku sangat yakin akan apa yang akan terjadi apabila aku mulai merangkaikan setiap jalinan rencanaku didalam untaian waktu. “Besok…! Yaah, besok akan kubeberkan semua rencanaku, akan kuungkap semua yang selama ini tersimpan.” Aku sudah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi, tapi kuyakin aku akan tersenyum pada akhirnya.


Matahari mulai terbenam, tapi entah mengapa rasanya warna merah yang dipancarkannya terlalu mencolok mataku. Aku bangkit dan beranjak dari duduk-duduk soreku. Mungkin ini sudah saatnya pulang dan beristirahat, bersiap-siap untuk besok. Namun sebelum kumelangkah, tiba-tiba kumerasakan sentuhan diseputar kaki kananku, seekor kucing sedang mengeluskan kepalanya pada kain celanaku. Entah datang dari mana kucing itu. Seekor kucing hitam. Kemudian kucing itu melangkah menjauh dariku setelah mengeong sekali. “Aneh-aneh saja.” Hanya itu yang bisa tersirat dalam pikiranku.

Aku mulai melangkah meninggalkan kedai kopi favoritku itu. Sinar matahari yang merah mecolok itu membuat bayangan pohon-pohon seperti terbakar, tapi aku cukup menikmati pemandangan itu. Aku bediam sejenak, akhirnya kuputuskan untuk tidak jadi naik taxi, dan lebih memilih menyusuri taman untuk sampai pada halte bis terdekat. “Toh langit pun masih sangat terang,” pikirku. Maka aku harus bersiap untuk menyebrang untuk menuju jalan ke halte, namun tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara kucing yang mengerang galak tepat dibelakangku., aku menoleh. “Hei, kucing hitam itu lagi!”, pikirku. Bulunya berdiri dan badannya menegang sambil menatap pada seekor kucing garong dihadapannya, sepertinya mereka akan mulai berkelahi, sampai “HUUUSSHH…!!”, seorang bapak tua berteriak dan menyentakkan kaki dengan keras kearah mereka sambil menghalau-halaukan tangannya untuk mencegah kedua kucing tersebut berkelahi. Kucing garong langsung kabur menjauh mendapat halauan dari bapak tua tersebut, sedangkan si kucing hitam melompat ke arahku dan seakan bersembunyi dibalik kedua kakiku. Aku sedikit bergeser, jujur karena aku sedikit takut tiba-tiba kucing itu mecakarku. Ternyata tidak, kucing hitam itu kembali mengeluskan kepalanya ke kain celanaku. Tapi tiba-tiba “HUUSSHH..!!” bapak tua itu kembali berteriak sambil menghalau kucing itu agar menjauh dariku, dan si kucing hitam itupun melompat kecil sambil menjauh dariku, terdengar ia mengeong sekali lagi.


“Kalau gak dipisahin, bisa berantem tuh kucing-kucing tadi, mana sudah mau maghrib, berisik pasti denger suaranya!”, kata bapak tua tersebut kearahku sebelum ia masuk menuju kedai kopi yang baru saja aku tinggalkan. Aku hanya tersenyum saja sambil mengangguk, kemudian kuberbalik lagi untuk bersiap-siap menyebrang. Namun mengapa jalanan menjadi sedikit ramai dan cepat, beberapa taxi tak berpenumpang melintas didepanku sambil menunjukkan isyarat pertanyaan apakah aku sedang menunggu taxi, bahkan satu dari taxi tersebut ada yang hampir menepikan mobilnya, namun aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Kali ini rasanya aku lebih memilih untuk naik bis saja, sesuai dengan keputusanku tadi. Setelah arus kendaraan mulai menyepi, aku melangkahkan kakiku untuk menyebrang. Sampai diseberang, entah mengapa rasanya aku ingin sekali untuk menoleh kebelakang. Aneh, ada kucing hitam itu lagi! Kucing tersebut sedang berdiri menghadap kearah jalan, yang juga berarti menghadap kearahku, sepintas kulihat mulutnya mengeong-ngeong beberapa kali, sambil menatap kearahku. “Mengapa aku merasakan sesuatu yang aneh”, pikirku dalam hati. Tapi kemudian kuputuskan untuk melanjutkan saja langkahku.


Taman ini adalah akses ternyaman untuk menuju halte terdekat, namun kurasa kali ini terlalu sepi, jalanan setapak ini hanya kulalui seorang diri, tak ada orang lain yang melaluinya. Lampu penerang taman mulai berfungsi pijarnya, karena langit merah kini mulai menggelap. Aku terus berjalan, selintas sedikit terpikir kejadian aneh berturut-turut yang baru kulewati akibat seekor kucing hitam yang entah darimana munculnya. Aku sedikit tersenyum simpul, “Orang-orang tua jaman dulu pasti sudah berpikir macam-macam mengenai ‘pertanda’ tentang hal itu”, ucapku monolog. Pikiranku terus menerawang saja sendirian sambil terus menyusuri jalanan setapak dalam taman, dan aku jadi teringat kembali akan rencanaku besok. Aku jadi lebih melebarkan senyum simpulku.


Tiba-tiba entah apa dan bagaimana, yang jelas terjadi dengan sangat cepat, aku mendengar bunyi grasak-grusuk dan tiba-tiba aku merasakan sesuatu menusuk lambung kananku. Aku langsung mencari sumber tusukan tersebut, dan seorang pria besar seakan mendorong badanku hingga tersungkur, ia mengangkat tusukan itu dari perutku, sambil menusukkan kembali kearah yang sama. Kali ini aku rasakan sakit yang luar biasa. Aku berteriak dengan sangat kerasnya, namun kurasakan sebuah tusukan mendarat sekali lagi diperutku. Entahlah apa lagi yang terjadi, tapi kumerasa ada benturan keras menghantam kepalaku. Sakit yang luar biasa, dan aku mulai merasa segalanya mulai menghitam. Hitam. Dan Menghitam. Sekilas semua berputar seperti sebuah film terbalik. Kucing hitam tadi…mengapa tiba-tiba aku teringat kucing hitam itu. Tidak..!! Aku juga teringat rencanaku..!! Aku belum sempat mewujudkannya..!! Tapi semua sudah menghitam sekarang…


Jakarta, 1 Juni 2004

Monday, February 07, 2005

...my 1st story...

--------------------------------------------------------------------------------------------------

A MAN'S HEART
"i never thought that i'm fallin this deep to her, i never expect something has grown inside my heart.."

"she' s just an ordinary girl, she has an ordinary smile, lives in an ordinary life.."

"now i just feel that i'm loosing her..and all i can do is just wacthing her from a distance...feeling only my true feeling about her...and knowing more and more that i have falling in love with her..i do love her till it feels so hurt.."

"but the funniest thing this situation is...she's not even my girlfriend...she's never been one...and i never thought about that too.."

"...she's just a friend...and just it.."



--------------------------------------------------------


Kegiatan di galeri spertinya sudah semakin ramai, itu sebabnya Madame Louise merekrut 2 orang pegawai baru lagi untuk membantu kelancaran semua pekerjaan. Salah satunya adalah "Shamara Missylia", yang skarang biasa aku panggil dengan sebutan "Mimi". Dia gadis yang biasa-biasa saja, tidak ada yg begitu istimewa dari penampilannya saat pertama kali dikenalkan oleh Madame Louise.

"Anton, kenalkan ini salah satu pegawai baru kita, dia akan banyak berurusan dengan kamu mengenai masalah promosi." ujar Madame Louise saat mengajak Mimi keruanganku.
Aku segera memandang wajah pegawai baru itu dan tersenyum, "Anton..!!", ujarku memperkenalkan namaku.
Kami berjabat tangan, dia juga tersenyum dan memperkenalkan namanya padaku, "Mimi..."
Gak ada yang istimewa, gak ada hal lain yang dapat dikenang lebih...its just that simple introduction...


Sejak saat itu aku banyak berhubungan mengenai pekerjaan dengan Mimi. Dibalik penampilannnya yg standar untuk ukuran promotion staff Galery kelas atas, ternyata Mimi seorang gadis dengan pribadi yg hangat, lucu dan penuh warna. Dandanan Mimi slalu standar, celana pantalon lurus warna gelap dengan kaos turtle neck polos tanpa lengan yang kadang suka dibelit oleh kain pajmina. Tatanan rambutnya juga itu-itu saja setiap hari, kuncir kuda, atau kadang ia menggelung rambutnya yang lurus sebahu itu sehingga terlihat sperti pucuk-pucuk buah nenas dengan jepitan warna hitam atau putih.

But sekali lagi, dibalik penampilannya yang biasa itu, aku merasa dia ia memiliki pribadi yang sangat menyenangkan. Ia selalu tampak seperti sosok yang berwarna diantara teman-teman kerjaku yang lain dikala tim Galery sedang berkumpul, berdiskusi atau bercanda bersama. Ia sangat terbuka, hangat dan ramah. Sehingga tak heran pula bila semua di Galery juga akrab dan senang berteman dengannya.


Jujur, bekerja dengan rekan yang cerdas, lugas dan hangat adalah hal yang dapat membantuku untuk dapat menikmati pekerjaanku. Dan itulah arti Mimi untukku. Kami tidak pernah khusus pergi bersama untuk bersenang-senang, selain mengenai masalah pekerjaan, tapi aku sangat menikmati hari-hari bekerjaku bersamanya. Karena pasti akan banyak banyolan-banyolan yang keluar dari mulutnya, cerita-cerita lucu atau kadang pergosipan mengenai banyak hal.


Hal aneh yang kurasakan adalah aku bisa bercerita banyak padanya,padahal aku bukan merupakan orang yg mudah menceritakan mengenai masalah kehidupanku. Aku memiliki banyak teman, memiliki kehidupan sosial yang cukup meriah dan aku merasa aku cukup ganteng karena ada beberapa gadis yg slalu mencoba berusaha mendapatkan perhatianku (bukannya aku GR). Aku memang terlihat terbuka pada setiap orang, tapi itu hanyalah permukaanku saja. Jarang aku dapat merasa nyaman untuk menjadi diriku sendiri. Sedangkan bersama Mimi, aku bisa bercerita banyak, mendengar pendapatnya, mengutarakan bagaimana perasaanku yang sebenarnya terhadap berbagai masalah yang sedang kuhadapi. Aku juga banyak mendengar cerita mengenai dirinya, keinginannya, kehidupan pribadinya dan segala hal mengenai dirinya. Mungkin karena Mimi adalah pribadi yang terbuka, aku juga bisa menjadi terbuka dengannya. Tidak ada yang kami sembunyikan satu sama lain mengenai masalah kehidupan kami, baik pekerjaan maupun kehidupan pribadi. Semua sungguh gamblang, blak-blakan dan indah.


Sampai pada saat dimana aku berani bilang padanya mengenai keinginanku, bahwa saat ini aku ingin memiliki seorang pacar yang serius, dan Mimi terlihat sangat bersemangat!!! Dia terlihat berpikir disela-sela tawanya mengejekku sambil berulang menyodorkan nama teman-teman wanita yang dia jadikan kandidat calon pacarku. Aku senang melihat aura positif dari dirinya ketika menceritakan mengenai profil teman-teman wanitanya itu, aku yakin ia pasti memilihkan teman wanitanya yang terbaik untuk dikenalkan padaku. Mimi slalu terlihat bersemangat dan tulus! Ada cahaya kegembiraan ketika pertama kali ia tau bahwa aku sudah mulai melakukan komunikasi dengan salah satu kandidat calon pacarku hasil sodorannya. Sambil tentu tak ketinggalan wajah usilnya yang slalu menggoda-goda aku biar aku salah tingkah.


Setiap pagi aku pasti langsung setor muka dimejanya untuk cerita mengenai perkembangan usahaku dalam mencari pacar. Dan Mimi slalu standby dengan senyumnya mendengarkan laporanku. Kadang dia mentertawai apa yang telah aku lakukan, kadang dia memberikan nasihat padaku, sampai kadang dia terlihat terlalu pusing mendengar banyaknya laporan asmaraku. Aku jadi tertawa sendiri melihat wajahnya...


Ohya, sejak awal aku juga tau bahwa Mimi telah memiliki seorang pacar. Hubungan dengan pacarnya kini telah berjalan hampir 5 tahun. Mimi juga bercerita mengenai hubungannya dengan pacarnya, bagaimana sifat pacarnya sampai tentang kapan ulang tahun pacarnya. Pada intinya aku tau hubungannya dengan pacarnya berjalan baik-baik saja dan menuju arah yang serius. Kadang Mimi pun suka meminta pendapatku mengenai apa yang harus ia lakukan ketika mereka sedang mempermasalahkan sesuatu. Aku pun sudah terbiasa dengan cerita-cerita dan tentang kehidupannya.


Aku senang dengan apa yang kumiliki bersama Mimi. Aku tau ia pasti peduli padaku, sebagaimana aku juga peduli terhadapnya. "Peduli" memang sengaja kata yang aku pilih untuk menggambarkan bagaimana perasaanku pada Mimi. Aku memang merasa dekat dengannya, dan begitupun sebaliknya. Namun aku merasa semua berjalan lurus dan benar, maksudku tidak ada salah satu dari kami yang berjalan melenceng dari jalur dan posisi kami masing-masing. Mimi tetap rekan kerja profesionalku dan akupun sebaliknya. Diluar pekerjaan aku tetap sibuk dengan kehidupan sosialku yang lain, dan Mimi pun juga demikian.


Hingga pada suatu pagi, tiba-tiba hampir seluruh teman-teman Galeryku mengerubung di meja Mimi. Hampir semuanya menunjukkan wajah ecxited dan penuh tawa. Gosip pagi adalah hal yang lumrah sekali terjadi pada awal hari di Galery. Buru-buru aku juga menghampiri meja tersebut untuk mencari tau kehebohan apa yang sedang terjadi. Aku langsung berteriak-teriak heboh juga agar semua menyadari kehadiranku.


Dan langsung Christine, salah satu rekan kerjaku juga berceletuk, "Haayoooo, toon..!! Coba tebak siapa yg berniat untuk mengakhiri masa lajangnya???!!!" ujarnya dengan alis mata dinaik-naikan agar aku berusaha menebak-nebak.


"Sebentar...sebentaaarr.." pikirku dalam hati. Entah mengapa rasa keinginan tauku tiba-tiba mencuat tinggi dengan drastisnya dan tak tau bagaimana juga diiringi dengan sedikit kecemasan dihatiku. Aku masih tertawa dan berusaha memandangi satu-satu wajah teman-temanku yang sedang berkerumun tersebut. Staff Galery memang hampir semuanya masih lajang. Aku berusaha menebak-nebak jawaban dari pertanyaan Christine. Semua wajah dihiasi dengan tawa dan senyuman bahagia. Ketika pandanganku tertuju pada Mimi...kulihat ia pun sedang tersenyum, namun lebih pada tersenyum tersipu tepatnya...


..waktu seakan berhenti sejenak untukku...bibirku masih tetap menunjukkan senyum, namun rasanya senyum itu menjadi kaku...


Langsung aku menatap ke arah Christine, mataku terbelalak kaget namun tetap kuberusaha menunjukkan rasa excited-ku. "Maksud loe...uuuummm...Mimi,Chris..??" Aku bertanya sambil tertawa...


...ada yang membuat dadaku terasa sesak..aku merasa jantungku berdebar lebih cepat..rasa cemasku seakan meledak-ledak..ada apa denganku..??...


Sesaat stelah jawabanku terlontar, yang kuingat langsung pecah keriuhan diantara semua teman-temanku yang berkerumun tersebut. Semua gembira...semua suka cita. hanya Mimi yang semakin tersipu-sipu. Aku tak ingat pasti apa saja yang mereka katakan, namun yang pasti aku tau bahwa...jawabanku adalah...benar..!!! Mimi akan menikah...


Ketika keriuhan akhirnya berhasil diredakan dan semua orang sudah harus mulai bekerja, aku hanya mampu duduk dan diam di ruanganku. Ada perasaan aneh yang aku rasakan. Aku juga bingung perasaan yang seperti apa sebenarnya, namun entahlah...rasanya saat ini aku hanya tau bahwa aku merasa tak sanggup bila aku harus bertemu dengan Mimi, tak sanggup untuk menatap wajah Mimi ataupun berbicara dengan Mimi. Padahal aku tau aku sudah harus mulai berdiskusi dengannya mengenai rencana promosi Galery bulan depan.


KNOCK..!! KNOCK..!!!
Pintuku diketuk dan Mimi sedang menyender di kayu pintu ruanganku. "Lets go,toon...we have plenty to disscuss neeeyy..!!!" ujarnya santai sambil tangannya memeluk tumpukan kertas-kertas pekerjaan. Gaya Mimi yang biasa, wajah Mimi yang biasa, cara bicara Mimi juga yang biasa aku temui setiap hari...semua masih sama...tidak ada yang berubah...tapi aku merasa semua menjadi berbeda...semua terasa benar-benar berbeda...Aku menatapnya sebentar, kemudian segera meraih berkas-berkas pekerjaannku dan kulangkahkan kakiku ke arahnya. "To the meeting room...!", ujarku meniru nada si super hero "batman" ketika ia akan menuju bat mobile. Seperti biasa Mimi langsung menggeleng-gelengkan kepala dan tertawa melihat responku, namun suara tawanya seakan menjadi smaamr-samar dikupingku...


Saat itu adalah saat pertama kali dimana aku sangat merasa sangat kaku dalam melakukan diskusi dengan Mimi. Aku merasa kikuk berada didekatnya. Aku merasa ada desiran-desiran aneh didadaku ketika kumelihatnya berbicara, tertawa ataupun ketika ia terdiam. Aku mencoba untuk bercanda, namun sulit skali untuk membuatku menjadi merasa santai. Mimi sempat bertanya apakah aku baik-baik saja, dan kujawab "Ya, aku baik-baik saja." Disela-sela diskusi pekerjaan, sesekali Mimi dengan malu-malu bercerita mengenai bagaimana cara sang pacar ketika memintanya untuk menikahinya. Entahlah, saat itu kupingku yang tak tersumbat apapun rasanya memilih untuk menjadi tuna rungu. Entahlah...aku tak ingin mendengar ceritamu kali ini, Mimi... Dan mataku, rasanya ingin kucolok kedua matakua saat kumelihat sebuah cincin melingkar di jari manis Mimi...sebuah cincin tanda persetuajuan Mimi untuk menikahi lelaki itu...


Ada apa denganku...aku sudah tau sejak awal segalanya tentang Mimi...aku pun sudah menyadari dengan sesadar-sadarnya bhwa pasti Mimi akan menikah dengan pacarnya suatu saat nanti...
Dan aku...aku pun sekarang sedang melakukan pendekatan dengan Amanda, salah seorang teman Mimi yang dikenalkannya padaku...
Apa yang salah denganku..??? Mungkin aku hanya takut merasa kehilangan seorang teman..??? Mungkin aku merasa tidak terima bahwa Mimi-ku akhirnya akan menjadi istri seseorang...???

...aku pernah mengenal cinta, tapi rasanya tidak pernah sepedih ini...lalu perasaan apa ini..??? Perasaan asing ini yang dengan sempurna membuat aku merasa meluruh dalam setiap detik aku melihat wajahnya, mendengar tawanya, mencium wangi parfumnya...atau bahkan ketika aqu hanya sekedar membayangkannya...


Hari-hari terus berlalu, hingga saat ini, tepat seminggu menuju hari pernikahan Mimi. Ini aku...aku masih disini...masih di ruangan kerjaku di Galery...dan masih dapat melihatnya dengan balutan pajminanya. Entah mengapa ia terlihat menjadi semakin cantik untukku. Namun aku masih berbicara dengannya, tertawa dengannya dan berusaha menjalankan peranku sehari-hari bersamanya, walalu setiap detik yang terlewat membuatnya semakin dekat dengan pernikahannya dan itu sama saja dengan menambah satu tusukan baru dihatiku. Besok Mimi akan memulai cutinya untuk persiapan hari bahagianya. Dan aku...??? Entahlah...bagaimana dengan aku...???

...entahlah, rasanya saat ini aku hanya ingin dapat untuk menghentikan waktu...aku ingin segera meraihnya, memeluknya erat dan tak akan pernah melepaskannya...aku tak punya kata-kata yang ingin kuucapkan padanya, aqu bahkan tak terpikir untuk berkata bahwa aku mencintainya, namun aku hanya ingin ia berada dipelukanku...selamanya...dan kurasa ia akan mengerti semua artinya, walau tanpa kata-kata...yaaah...kurasa ia akan mengerti...

"Antoooooonnnnn..!!!"
Aku langsung terbangun dari dunia kegilaanku yang diselimuti oleh perasaan asing yang aneh itu. Wajah Mimi menyembul dari pintu ruanganku. Ia berjalan menghampiriku, menatap wajahku dan berucap : "I'm gonna be Mrs. Yudishtira Wijaya Putra by next Sunday Morning,Ton...sooo..I wonder if you could give good luck hug for this clumsy "Shamara Missylia"...", ujarnya sambil menunjuk ujung hidungnya,"...wish her the best for the wedding...and wish her to be live happly ever after...forever...with teh man that she has choose.", lanjutnya. Mimi berdiri tepat dihadapanku sambil tersenyum dengan sangat cantiknya, ada sinar-sinar kebahagiaan yang luar biasa yang aku tak pernah lihat sebelumnya memancar dari dimatanya. Entah mengapa, entah dirasuki apa, tiba-tiba aku merasa sadar akan sesuatu...

Mimi telah berbahagia...

...mungkin perasaan asing didiriku ini merupakan suatu kesalahan besar, Mimi mungkin memang takkan pernah jadi Mimi-ku...setidaknya bukan seperti Mimi-ku yang kuharapkan dalam dunia kegilaanku...

Aku tersenyum menatapnya, aku berdiri dari kursi kerjaku dan terus menatapnya matanya. Mimi jadi mendongakkan kepalanya agar tetap dapat melihat wajahku, maklum tingginya hanya mencapai gadu bawahku.

"Shamara Missilia...", ujarku padanya, aku langsung memeluk erat bahunya dan kudekapkan didadaku, dan ia membalas pelukanku dengan tulus dan hangat. Pelukan seorang sahabat kepada sahabatnya.

...anehnya ternyata waktu tidak berhenti sesuai dengan apa yang aku inginkan dalam dunia kegilaanku tadi...

Wangi khas Mimi seakan memenuhi semua indera penciumanku saat ini, membuatku mulai memasuki dunia kegilaanku lagi, tapi aku memaksa untuk mampu berkata : "Miii...good luck for your wedding yaaah...i surely wish you both the best happiness for ur coming new life...yang akur-akur terus yaah..jangan suka brantem, biar gak musti bangunin gw malem-malem untuk denger curhat loe.." kudengar Mimi tertawa kecil mendengar ucapanku, "..Okay dey...wish you both the best yaaah...and selamat menjadi Nyonya Yudishtira Wijaya Putra...loe pasti akan menjadi istri dan ibu yang terbaik di dunia ini..", lanjutku. Kemudian kulepaskan pelukanku dari bahunya. Ia menatapku, tersenyum bahagia, walau ada sedikit genangan-genangan bening dimatanya...itu mungkin yang namakan dengan "sisi sentimentil dari sepasang sahabat". "Thanks berats yaaah,Ton..you're always be the bestest...!!". Aku hanya bisa mengangguk dan tetep berusaha untuk tersenyum.

Rupanya aku adalah orang terakhir yang ia hampiri sebelum ia mulai meninggalkan Galery untuk memulai cuti pernikahannya. Aku tak mengantarkannya sampai ke lift speeprti beberapa temen-temen yang lain. Aku memilih untuk tetepa diam di ruanganku, meneguk kopi hitamku yang masih tersisa...

Aku hanya mampu terdiam...

Terdiam...

Terdiam...dan mulai menyadari...bahwa mungkin...NO...!!! NO...!! NO...!!! Bukan "mungkin"...!! Mmungkin bukanlah kata yang tepat...!!!

Kini aku hanya mampu melepasnya, melepasnya pergi berbahagia dengan orang yang memang benar-benar kekasihnya. Aku melepasnya pergi disaat aku bener-benar mengerti...dan benar-benar meyakini...bahwa...aku telah...jatuh cinta...kepadanya...



t.h.e_e.n.d

Tuesday, December 14, 2004

...musuh tbesarku adalah aku...

Ternyata hal yang paling sulit untuk dikalahkan adalah : diri sendiri !!! (minimal untuk saya sendiri) (^_^)
Terbukti..ternyata tulisan "ke-dua" di blog ini blum muncul-muncul juga tuuuh..sampe akhirnya : skarang..!! heheheh...!! Yaah,sbenarnya ini juga gak bisa disebut sebagai sebuah karya kaleee yaaah, karena ini kayanya cuma merupakan sebuah curahan hati aja...very-very no imagination and no creation...pfff...


Aduuuuhh..sebelnya tuuuuh...kadang-kadang ide tuuuh datengnya dengan MEMBLUDAAKKKK di otak secara tiba-tiba..!! Tapiiii...itu adalah ketika saat-saat lagi bengong-bengong, ketika lagi asik-asik 'puppy' (**uupppsss..sorry!(^_^) atau ketika lagi sibuk-sibuk ngaca sendiri di dalem kamar.. Banyaaaakkk bangeeettttt ide-ide yang bmunculan di otak saya..ibaratnya kaya jagung popcorn yang dipanasin!! Mletup sana..mletup sini..!! Buanyaaak laaah pokonyah...!! (^_^) Tapi masalahnya...koq yaaa maleesssss bangeettttt untuk mulai nulisnyaaahhhh..!! "Datz e probleme..!!"


Sama halnya seperti rasa muuuaaallleeees yang luar byassaa untuk coba memulai olah raga..trus juga rasa muales untuk mulai berdiet (**soalnya over weight 9 kilo dari berat idaman...hiks2!!! tinggi: 163,berat:60,red )..trus lagi rasa males untuk ngambil air wudhu dan...melakukan SHOLAT...!!!!!

"Ooooh,dear...manuasia macam apa gw skarang ini.."

But, "MALAAASSS" itu kaaan harus di-LAWAN yaaah kaaannnn..!!! GW PASTI BISSSSAAAA...!!!!
Yeaaah,beiiibiiihh..!!!
[^_*]

ciiirrrss...!!

Thursday, December 02, 2004

its my first time..

Sbenernya ini hanya karena saya terinspirasi...oleh sebuah tulisan yang ditulis oleh seorang teman saya dalam sebuah blog miliknya>..(**uuummm...sebenarnya justru saya yang pertama kali mengenalkan sesuatu bernama blogger padanya), gak tau knapa, stelah buka-buka blognya, spertinya tiba-tiba menimbulkan stimulus-stimulus di otak, di tangan dan di imaginasi saya untuk mencoba membuat sesuatu dalam bentuk tulisan-tulisan (**lebih tepat, membuat lagi...)...

Mungkin bukan sebuah tulisan yang penting...bukan juga sebuah tulisan yang keren...bukan juga tulisan yang sophisticated atau apalah. Ini cuma sebuah tulisan dari saya, tentang sebuah cerita...yang mungkin saja ini memang tulisan yang berdasarkan fakta, atau mungkin cuma sekedar khayalan-khayalan saja..atau mungkin juga merupakan tulisan tentang hasrat terpendam saya yang rasanya gak mungkin banget bisa diutarakan melalui seorang saya..karena alasan...uuumm...terlalu liar misalnya! hehehehe... (^_^)

Tapi pada intinya, blog adalah sebuah inspirasi...inspirasi tentang memiliki sebuah kedisiplinan. Kali ini kedisiplinan dalam menulis, pokoknya mudah-mudahan blog ini bisa bikin saya untuk jadi gak males mnulis...kayanya saya punya bakat kooqqq...walau cuma sdikit..!! hehehehe! (**uummm, sampai sekarang saya masih punya keinginan untuk menciptakan sebuah buku karya sendiri...a book by : a.i.k.u). Atau yaah...minimal saya jadi semakin terpacu untuk memulai penulisan skripsi saya kalee yaaaah, yang sudah hampir satu semester gak saya sentuh-sentuh..(^_^) amin..

Okay laah...anyway, this my first writing in this blog..and hopefully ini menjadi blog terakhir saya (**gak bernasib di-delete ato M.I.A seperti blog-blog saya sebelumnya), dimana di blog ini saya akan terus rajin...dan...disiplin...untuk menulis...

Ini sebabnya saya menamakan blog saya : www.terakhir.blogspot.com

Cheers!