--------------------------------------------------------------------------------------------------
A MAN'S HEART
"i never thought that i'm fallin this deep to her, i never expect something has grown inside my heart.."
"she' s just an ordinary girl, she has an ordinary smile, lives in an ordinary life.."
"now i just feel that i'm loosing her..and all i can do is just wacthing her from a distance...feeling only my true feeling about her...and knowing more and more that i have falling in love with her..i do love her till it feels so hurt.."
"but the funniest thing this situation is...she's not even my girlfriend...she's never been one...and i never thought about that too.."
"...she's just a friend...and just it.."
--------------------------------------------------------
Kegiatan di galeri spertinya sudah semakin ramai, itu sebabnya Madame Louise merekrut 2 orang pegawai baru lagi untuk membantu kelancaran semua pekerjaan. Salah satunya adalah "Shamara Missylia", yang skarang biasa aku panggil dengan sebutan "Mimi". Dia gadis yang biasa-biasa saja, tidak ada yg begitu istimewa dari penampilannya saat pertama kali dikenalkan oleh Madame Louise.
"Anton, kenalkan ini salah satu pegawai baru kita, dia akan banyak berurusan dengan kamu mengenai masalah promosi." ujar Madame Louise saat mengajak Mimi keruanganku.
Aku segera memandang wajah pegawai baru itu dan tersenyum, "Anton..!!", ujarku memperkenalkan namaku.
Kami berjabat tangan, dia juga tersenyum dan memperkenalkan namanya padaku, "Mimi..."
Gak ada yang istimewa, gak ada hal lain yang dapat dikenang lebih...its just that simple introduction...
Sejak saat itu aku banyak berhubungan mengenai pekerjaan dengan Mimi. Dibalik penampilannnya yg standar untuk ukuran promotion staff Galery kelas atas, ternyata Mimi seorang gadis dengan pribadi yg hangat, lucu dan penuh warna. Dandanan Mimi slalu standar, celana pantalon lurus warna gelap dengan kaos turtle neck polos tanpa lengan yang kadang suka dibelit oleh kain pajmina. Tatanan rambutnya juga itu-itu saja setiap hari, kuncir kuda, atau kadang ia menggelung rambutnya yang lurus sebahu itu sehingga terlihat sperti pucuk-pucuk buah nenas dengan jepitan warna hitam atau putih.
But sekali lagi, dibalik penampilannya yang biasa itu, aku merasa dia ia memiliki pribadi yang sangat menyenangkan. Ia selalu tampak seperti sosok yang berwarna diantara teman-teman kerjaku yang lain dikala tim Galery sedang berkumpul, berdiskusi atau bercanda bersama. Ia sangat terbuka, hangat dan ramah. Sehingga tak heran pula bila semua di Galery juga akrab dan senang berteman dengannya.
Jujur, bekerja dengan rekan yang cerdas, lugas dan hangat adalah hal yang dapat membantuku untuk dapat menikmati pekerjaanku. Dan itulah arti Mimi untukku. Kami tidak pernah khusus pergi bersama untuk bersenang-senang, selain mengenai masalah pekerjaan, tapi aku sangat menikmati hari-hari bekerjaku bersamanya. Karena pasti akan banyak banyolan-banyolan yang keluar dari mulutnya, cerita-cerita lucu atau kadang pergosipan mengenai banyak hal.
Hal aneh yang kurasakan adalah aku bisa bercerita banyak padanya,padahal aku bukan merupakan orang yg mudah menceritakan mengenai masalah kehidupanku. Aku memiliki banyak teman, memiliki kehidupan sosial yang cukup meriah dan aku merasa aku cukup ganteng karena ada beberapa gadis yg slalu mencoba berusaha mendapatkan perhatianku (bukannya aku GR). Aku memang terlihat terbuka pada setiap orang, tapi itu hanyalah permukaanku saja. Jarang aku dapat merasa nyaman untuk menjadi diriku sendiri. Sedangkan bersama Mimi, aku bisa bercerita banyak, mendengar pendapatnya, mengutarakan bagaimana perasaanku yang sebenarnya terhadap berbagai masalah yang sedang kuhadapi. Aku juga banyak mendengar cerita mengenai dirinya, keinginannya, kehidupan pribadinya dan segala hal mengenai dirinya. Mungkin karena Mimi adalah pribadi yang terbuka, aku juga bisa menjadi terbuka dengannya. Tidak ada yang kami sembunyikan satu sama lain mengenai masalah kehidupan kami, baik pekerjaan maupun kehidupan pribadi. Semua sungguh gamblang, blak-blakan dan indah.
Sampai pada saat dimana aku berani bilang padanya mengenai keinginanku, bahwa saat ini aku ingin memiliki seorang pacar yang serius, dan Mimi terlihat sangat bersemangat!!! Dia terlihat berpikir disela-sela tawanya mengejekku sambil berulang menyodorkan nama teman-teman wanita yang dia jadikan kandidat calon pacarku. Aku senang melihat aura positif dari dirinya ketika menceritakan mengenai profil teman-teman wanitanya itu, aku yakin ia pasti memilihkan teman wanitanya yang terbaik untuk dikenalkan padaku. Mimi slalu terlihat bersemangat dan tulus! Ada cahaya kegembiraan ketika pertama kali ia tau bahwa aku sudah mulai melakukan komunikasi dengan salah satu kandidat calon pacarku hasil sodorannya. Sambil tentu tak ketinggalan wajah usilnya yang slalu menggoda-goda aku biar aku salah tingkah.
Setiap pagi aku pasti langsung setor muka dimejanya untuk cerita mengenai perkembangan usahaku dalam mencari pacar. Dan Mimi slalu standby dengan senyumnya mendengarkan laporanku. Kadang dia mentertawai apa yang telah aku lakukan, kadang dia memberikan nasihat padaku, sampai kadang dia terlihat terlalu pusing mendengar banyaknya laporan asmaraku. Aku jadi tertawa sendiri melihat wajahnya...
Ohya, sejak awal aku juga tau bahwa Mimi telah memiliki seorang pacar. Hubungan dengan pacarnya kini telah berjalan hampir 5 tahun. Mimi juga bercerita mengenai hubungannya dengan pacarnya, bagaimana sifat pacarnya sampai tentang kapan ulang tahun pacarnya. Pada intinya aku tau hubungannya dengan pacarnya berjalan baik-baik saja dan menuju arah yang serius. Kadang Mimi pun suka meminta pendapatku mengenai apa yang harus ia lakukan ketika mereka sedang mempermasalahkan sesuatu. Aku pun sudah terbiasa dengan cerita-cerita dan tentang kehidupannya.
Aku senang dengan apa yang kumiliki bersama Mimi. Aku tau ia pasti peduli padaku, sebagaimana aku juga peduli terhadapnya. "Peduli" memang sengaja kata yang aku pilih untuk menggambarkan bagaimana perasaanku pada Mimi. Aku memang merasa dekat dengannya, dan begitupun sebaliknya. Namun aku merasa semua berjalan lurus dan benar, maksudku tidak ada salah satu dari kami yang berjalan melenceng dari jalur dan posisi kami masing-masing. Mimi tetap rekan kerja profesionalku dan akupun sebaliknya. Diluar pekerjaan aku tetap sibuk dengan kehidupan sosialku yang lain, dan Mimi pun juga demikian.
Hingga pada suatu pagi, tiba-tiba hampir seluruh teman-teman Galeryku mengerubung di meja Mimi. Hampir semuanya menunjukkan wajah ecxited dan penuh tawa. Gosip pagi adalah hal yang lumrah sekali terjadi pada awal hari di Galery. Buru-buru aku juga menghampiri meja tersebut untuk mencari tau kehebohan apa yang sedang terjadi. Aku langsung berteriak-teriak heboh juga agar semua menyadari kehadiranku.
Dan langsung Christine, salah satu rekan kerjaku juga berceletuk, "Haayoooo, toon..!! Coba tebak siapa yg berniat untuk mengakhiri masa lajangnya???!!!" ujarnya dengan alis mata dinaik-naikan agar aku berusaha menebak-nebak.
"Sebentar...sebentaaarr.." pikirku dalam hati. Entah mengapa rasa keinginan tauku tiba-tiba mencuat tinggi dengan drastisnya dan tak tau bagaimana juga diiringi dengan sedikit kecemasan dihatiku. Aku masih tertawa dan berusaha memandangi satu-satu wajah teman-temanku yang sedang berkerumun tersebut. Staff Galery memang hampir semuanya masih lajang. Aku berusaha menebak-nebak jawaban dari pertanyaan Christine. Semua wajah dihiasi dengan tawa dan senyuman bahagia. Ketika pandanganku tertuju pada Mimi...kulihat ia pun sedang tersenyum, namun lebih pada tersenyum tersipu tepatnya...
..waktu seakan berhenti sejenak untukku...bibirku masih tetap menunjukkan senyum, namun rasanya senyum itu menjadi kaku...
Langsung aku menatap ke arah Christine, mataku terbelalak kaget namun tetap kuberusaha menunjukkan rasa excited-ku. "Maksud loe...uuuummm...Mimi,Chris..??" Aku bertanya sambil tertawa...
...ada yang membuat dadaku terasa sesak..aku merasa jantungku berdebar lebih cepat..rasa cemasku seakan meledak-ledak..ada apa denganku..??...
Sesaat stelah jawabanku terlontar, yang kuingat langsung pecah keriuhan diantara semua teman-temanku yang berkerumun tersebut. Semua gembira...semua suka cita. hanya Mimi yang semakin tersipu-sipu. Aku tak ingat pasti apa saja yang mereka katakan, namun yang pasti aku tau bahwa...jawabanku adalah...benar..!!! Mimi akan menikah...
Ketika keriuhan akhirnya berhasil diredakan dan semua orang sudah harus mulai bekerja, aku hanya mampu duduk dan diam di ruanganku. Ada perasaan aneh yang aku rasakan. Aku juga bingung perasaan yang seperti apa sebenarnya, namun entahlah...rasanya saat ini aku hanya tau bahwa aku merasa tak sanggup bila aku harus bertemu dengan Mimi, tak sanggup untuk menatap wajah Mimi ataupun berbicara dengan Mimi. Padahal aku tau aku sudah harus mulai berdiskusi dengannya mengenai rencana promosi Galery bulan depan.
KNOCK..!! KNOCK..!!!
Pintuku diketuk dan Mimi sedang menyender di kayu pintu ruanganku. "Lets go,toon...we have plenty to disscuss neeeyy..!!!" ujarnya santai sambil tangannya memeluk tumpukan kertas-kertas pekerjaan. Gaya Mimi yang biasa, wajah Mimi yang biasa, cara bicara Mimi juga yang biasa aku temui setiap hari...semua masih sama...tidak ada yang berubah...tapi aku merasa semua menjadi berbeda...semua terasa benar-benar berbeda...Aku menatapnya sebentar, kemudian segera meraih berkas-berkas pekerjaannku dan kulangkahkan kakiku ke arahnya. "To the meeting room...!", ujarku meniru nada si super hero "batman" ketika ia akan menuju bat mobile. Seperti biasa Mimi langsung menggeleng-gelengkan kepala dan tertawa melihat responku, namun suara tawanya seakan menjadi smaamr-samar dikupingku...
Saat itu adalah saat pertama kali dimana aku sangat merasa sangat kaku dalam melakukan diskusi dengan Mimi. Aku merasa kikuk berada didekatnya. Aku merasa ada desiran-desiran aneh didadaku ketika kumelihatnya berbicara, tertawa ataupun ketika ia terdiam. Aku mencoba untuk bercanda, namun sulit skali untuk membuatku menjadi merasa santai. Mimi sempat bertanya apakah aku baik-baik saja, dan kujawab "Ya, aku baik-baik saja." Disela-sela diskusi pekerjaan, sesekali Mimi dengan malu-malu bercerita mengenai bagaimana cara sang pacar ketika memintanya untuk menikahinya. Entahlah, saat itu kupingku yang tak tersumbat apapun rasanya memilih untuk menjadi tuna rungu. Entahlah...aku tak ingin mendengar ceritamu kali ini, Mimi... Dan mataku, rasanya ingin kucolok kedua matakua saat kumelihat sebuah cincin melingkar di jari manis Mimi...sebuah cincin tanda persetuajuan Mimi untuk menikahi lelaki itu...
Ada apa denganku...aku sudah tau sejak awal segalanya tentang Mimi...aku pun sudah menyadari dengan sesadar-sadarnya bhwa pasti Mimi akan menikah dengan pacarnya suatu saat nanti...
Dan aku...aku pun sekarang sedang melakukan pendekatan dengan Amanda, salah seorang teman Mimi yang dikenalkannya padaku...
Apa yang salah denganku..??? Mungkin aku hanya takut merasa kehilangan seorang teman..??? Mungkin aku merasa tidak terima bahwa Mimi-ku akhirnya akan menjadi istri seseorang...???
...aku pernah mengenal cinta, tapi rasanya tidak pernah sepedih ini...lalu perasaan apa ini..??? Perasaan asing ini yang dengan sempurna membuat aku merasa meluruh dalam setiap detik aku melihat wajahnya, mendengar tawanya, mencium wangi parfumnya...atau bahkan ketika aqu hanya sekedar membayangkannya...
Hari-hari terus berlalu, hingga saat ini, tepat seminggu menuju hari pernikahan Mimi. Ini aku...aku masih disini...masih di ruangan kerjaku di Galery...dan masih dapat melihatnya dengan balutan pajminanya. Entah mengapa ia terlihat menjadi semakin cantik untukku. Namun aku masih berbicara dengannya, tertawa dengannya dan berusaha menjalankan peranku sehari-hari bersamanya, walalu setiap detik yang terlewat membuatnya semakin dekat dengan pernikahannya dan itu sama saja dengan menambah satu tusukan baru dihatiku. Besok Mimi akan memulai cutinya untuk persiapan hari bahagianya. Dan aku...??? Entahlah...bagaimana dengan aku...???
...entahlah, rasanya saat ini aku hanya ingin dapat untuk menghentikan waktu...aku ingin segera meraihnya, memeluknya erat dan tak akan pernah melepaskannya...aku tak punya kata-kata yang ingin kuucapkan padanya, aqu bahkan tak terpikir untuk berkata bahwa aku mencintainya, namun aku hanya ingin ia berada dipelukanku...selamanya...dan kurasa ia akan mengerti semua artinya, walau tanpa kata-kata...yaaah...kurasa ia akan mengerti...
"Antoooooonnnnn..!!!"
Aku langsung terbangun dari dunia kegilaanku yang diselimuti oleh perasaan asing yang aneh itu. Wajah Mimi menyembul dari pintu ruanganku. Ia berjalan menghampiriku, menatap wajahku dan berucap : "I'm gonna be Mrs. Yudishtira Wijaya Putra by next Sunday Morning,Ton...sooo..I wonder if you could give good luck hug for this clumsy "Shamara Missylia"...", ujarnya sambil menunjuk ujung hidungnya,"...wish her the best for the wedding...and wish her to be live happly ever after...forever...with teh man that she has choose.", lanjutnya. Mimi berdiri tepat dihadapanku sambil tersenyum dengan sangat cantiknya, ada sinar-sinar kebahagiaan yang luar biasa yang aku tak pernah lihat sebelumnya memancar dari dimatanya. Entah mengapa, entah dirasuki apa, tiba-tiba aku merasa sadar akan sesuatu...
Mimi telah berbahagia...
...mungkin perasaan asing didiriku ini merupakan suatu kesalahan besar, Mimi mungkin memang takkan pernah jadi Mimi-ku...setidaknya bukan seperti Mimi-ku yang kuharapkan dalam dunia kegilaanku...
Aku tersenyum menatapnya, aku berdiri dari kursi kerjaku dan terus menatapnya matanya. Mimi jadi mendongakkan kepalanya agar tetap dapat melihat wajahku, maklum tingginya hanya mencapai gadu bawahku.
"Shamara Missilia...", ujarku padanya, aku langsung memeluk erat bahunya dan kudekapkan didadaku, dan ia membalas pelukanku dengan tulus dan hangat. Pelukan seorang sahabat kepada sahabatnya.
...anehnya ternyata waktu tidak berhenti sesuai dengan apa yang aku inginkan dalam dunia kegilaanku tadi...
Wangi khas Mimi seakan memenuhi semua indera penciumanku saat ini, membuatku mulai memasuki dunia kegilaanku lagi, tapi aku memaksa untuk mampu berkata : "Miii...good luck for your wedding yaaah...i surely wish you both the best happiness for ur coming new life...yang akur-akur terus yaah..jangan suka brantem, biar gak musti bangunin gw malem-malem untuk denger curhat loe.." kudengar Mimi tertawa kecil mendengar ucapanku, "..Okay dey...wish you both the best yaaah...and selamat menjadi Nyonya Yudishtira Wijaya Putra...loe pasti akan menjadi istri dan ibu yang terbaik di dunia ini..", lanjutku. Kemudian kulepaskan pelukanku dari bahunya. Ia menatapku, tersenyum bahagia, walau ada sedikit genangan-genangan bening dimatanya...itu mungkin yang namakan dengan "sisi sentimentil dari sepasang sahabat". "Thanks berats yaaah,Ton..you're always be the bestest...!!". Aku hanya bisa mengangguk dan tetep berusaha untuk tersenyum.
Rupanya aku adalah orang terakhir yang ia hampiri sebelum ia mulai meninggalkan Galery untuk memulai cuti pernikahannya. Aku tak mengantarkannya sampai ke lift speeprti beberapa temen-temen yang lain. Aku memilih untuk tetepa diam di ruanganku, meneguk kopi hitamku yang masih tersisa...
Aku hanya mampu terdiam...
Terdiam...
Terdiam...dan mulai menyadari...bahwa mungkin...NO...!!! NO...!! NO...!!! Bukan "mungkin"...!! Mmungkin bukanlah kata yang tepat...!!!
Kini aku hanya mampu melepasnya, melepasnya pergi berbahagia dengan orang yang memang benar-benar kekasihnya. Aku melepasnya pergi disaat aku bener-benar mengerti...dan benar-benar meyakini...bahwa...aku telah...jatuh cinta...kepadanya...
t.h.e_e.n.d